Berwudlu di dalam WC

Dikamar mandi kita tidak boleh mengucapkan Asma Alloh, padahal salah satu rukun dari wudlu adalah niat, yang kita lakukan pada saat akan berwudlu. Bagaimana dengan hal ini ? Apakah saya harus berniat wudlunya sebelum masuk kamar mandi, atau disaat kita mengambil air saat wudlu, yang secara otomatis itu berada di kamar mandi dan itu berarti saya menyebutkan Asma Alloh dalam niat saya. Tanya Jawab (439) : Berwudlu di dalam WC Alhamdulillah, Saya ucapkan terima kasih atas jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan. Tetapi masih tetap ada satu hal yang menganjal hati saya perihal wudlu ini. Dan saya ingin menanyakan kembali. Pertanyaannya : Dikamar mandi kita tidak boleh mengucapkan Asma Alloh, padahal salah satu rukun dari wudlu adalah niat, yang kita lakukan pada saat akan berwudlu. Bagaimana dengan hal ini ? Apakah saya harus berniat wudlunya sebelum masuk kamar mandi, atau disaat kita mengambil air saat wudlu, yang secara otomatis itu berada di kamar mandi dan itu berarti saya menyebutkan Asma Alloh dalam niat saya. Demikian yang ingin saya tanyakan, terima kasih sebelumnya. Salam kenal. Wassalam Aris Supriyanto ------- Jawab ------- Sdr. Aris, Mengingat Allah selalu, di mana pun kita berada, diajarkan oleh agama. Di kamar WC pun kita hendaknya selalu mengingat Allah agar adab dan perilaku kita selalu terpandu sesuai tuntunan-Nya. Menyebut (melafalkan dengan suara) nama Allah di tempat-tempat kotor, semisal WC makruh hukumnya. Berkaitan dengan niat. Niat memang menjadi bagian yang harus dilakukan ketika wudlu menurut mazhab Syafi'i, Maliki dan Hanbali, sementara menurut mazhab Hanafi hukumnya sunnah. Bagaimana berniat wudlu dalam WC? Niat yang wajib adalah niat di dalam hati (yaitu kehendak hati untuk melakukan wudlu, atau ibadah lainnya), sementara niat dengan mengucapkan melalui lesan hukumnya sunnah menurut mazhab Syafi'i dan Hanbali, menurut mazhab Maliki melafalkan niat tidak ada dasar dalil syariatnya bahkan menurut mazhab Hanafi melafalkan niat adalah bid`ah. Yang terpenting dalam niat adalah kehendak di hati, bukan yang terucap. Yang terucap hanya untuk membantu menuntun hati, demikian hal ini disepakati oleh mazhab Syafi`i dan Hanbali. Untuk itu, cukuplah berniat wudlu di dalam hati dan berdoa di dalam hati ketika berada di tempat-tempat yang kotor. Jika Anda lebih mantap berniat dengan melafalkan, maka cukuplah berniat dengan "nawaitul wudlu" atau "nawaitul wudlu'a liraf`il hadasil ashghar" atau kalau biasanya menyambung sampai "lillahi ta`ala" maka ubahlah kata "lillahi ta`ala" menjadi "lil-ibadah atau lit-ta`abbud". Namun hanya dengan niat "nawaitul wudlu" pun sudah mencukupi. Wallahu a`lam. Demikian, semoga membantu. Wassalam Shocheh Ha.