Diupdate terakhir: 17 November 2000
   Pesantren Virtual -> Tanya Jawab -> Jilbab, Salat, dan Keluarga

Jilbab, Salat, dan Keluarga
Seri ke-31, Jum'at, 17 November 2000


Tanya:
Ada beberapa hal yang ingin saya kemukakan, yaitu:
  1. Saya sudah menikah selama hampir dua tahun, istri 25 tahun, masih kuliah dan bekerja. Kami belum dikaruniai keturunan. Kira-kira pada akhir tahun 1997 (waktu itu kami belum menikah), istri saya memutuskan untuk memakai kerudung. Saya kaget, tetapi senang juga. Masalahnya, pada akhir-akhir ini dia sering mengeluh dan timbul kesan seperti menyesali keputusannya itu dengan alasan yang menurut saya kurang jelas, apakah itu pekerjaan (padahal tidak ada penekanan untuk itu), pergaulan (itu pun sebenarnya tidak jelas juga), dan keinginan itu timbul bila ada pertengkaran diantara kami. Saya sering mengingatkannya, bahkan saya membebaskannya untuk berpikir dan memutuskan apakah akan memakai kerudung atau tidak, karena saya pikir tidak baik juga kalau ditekan. Saya ingin penjelasan, bagaimana kira-kira hukumnya mengenai hal ini, dan saya meminta saran bagaimana untuk menjelaskannya kepada istri saya.
  2. Istri saya lahir dari keluarga "broken home" karena orang tuanya cerai ketika dia masih umur tiga tahunan. Karena itu masalah keluarga menjadi masalah yang sangat peka sekali, baik bila itu datangnya dari keluarga saya atau keluarga dia sendiri. Yang paling berpengaruh padanya (menurut pengamatan saya dan penuturan dia sendiri) adalah ayah dan neneknya yang telah merawat dan mendidik dia selama ini. Akhir-akhir ini kami sering cekcok dengan masalah yang rasanya sulit sekali diputuskan. Adanya adik ipar laki-laki (adik kandung saya), omongan orang tua, masalah di keluarganya yang kebetulan saat ini sedang kurang ekonominya, pekerjaan dan lain-lain menjadi satu. Saya bingung bagaimana meluruskannya satu persatu.
  3. Saya sering mengingatkan istri saya agar shalat. Meskipun saya sendiri sering lewat, tetapi saya tetap melaksanakannnya. Kadang-kadang alasannya malas, bagaimana saya menyikapinya, apakah harus keras, lembut atau bagaimana. Bila keras, dia selalu menentangnya, bila lembut kok nggak berpengaruh. Saya ingin agar kami selalu saling mengingatkan dalam kebaikan.
Jawab:

Jawaban nomor 1:
Mas Nugrohadi,
Masalah kerudung memang banyak penafsiran dalam hukum Islam, walaupun begitu masalah pakaian wanita secara umum tak lepas dari pandangan hukum Islam, karena menyangkut psiko-sosial terhadap eksistensi wanita itu sendiri yang intinya untuk mengangkat derajat kaum hawa.

Islam sendiri sebetulnya bukan sebuah agama yang baru. Islam merupakan ajaran pamungkas atau ajaran yang menyempurnakan ajaran samawi sebelumnya yaitu Yahudi dan Nasrani. Anda sendiri sering melihat biarawati ada keharusan memakai kerudung. Cara berpakaian kerudung seperti tersebut memang sebuah ajaran untuk mendekatkan diri pada aspek psikologis kewanitaan. Di mana wanita lebih cenderung bersifat kontradiktif: pasrah tapi asertif (membaja-patah bila dibengkokan), hingga perlu bentuk lain untuk meng-cover, yaitu bagaimana berpenampilan. Ada falsafah jawa mengatakan, ajining raga ana ing busana, harkat sebuah badan ada di busana. Dengan demikian secara ajaran samawi maupun ajaran yang dilahirkan oleh kebudayaan manusia mempunyai persepsi yang sama mengenai masalah pakaian. Tinggal bagaimana menyempurnakan saja bentuk pakaian itu agar benar-benar melindungi aurat kita. Penekanan menutup aurat dalam al-Qur'an terdapat dalam QS. 7:26 dan di (QS. 33:59) Allah menekankan lagi mengenai masalah metode berpakaian jilbab.

Adapun kembali pada permasalahan istri Anda, harapan saya Anda bisa menerangkan hal ini semua dengan baik. Bahkan Anda perlu membina nuansa baru dengan istri Anda, carilah tempat yang tenang, misalnya sesekali weekend yang murah meriah di tempat yang menyejukkan agar Anda bisa bercerita segala permasalahan (termasuk permasalahan di atas) dengan segar pula disertai dengan canda. Tanpa Anda harus menekan atau memaksa istri Anda, sebab kesadaran dari dalam (inner-consciousness) itu lebih baik dari pada sebuah pemaksaan karena Islam tidak mengajarkan pemaksaan. Namun kelugasan Islam akan selalu memberikan penjelasan yang benar itu benar meski terasa pahit (coba resapi QS.2: 256)

Jawaban nomor 2:
Bentuk problem solving (pemecahan masalah) yang sering ditawarkan oleh para teoritis Muslim mungkin akan menjadikan alternatif Anda untuk memutuskan permasalahan.

Pertama, Kembali merenungi diri sebagai hamba Allah dengan sesering mungkin
membaca istighfar, memohon sebuah pengampunan agar kita terlepas dari segala
penyesalan diri yang telah terukir dari kejadian yang telah lewat Sekaligus
mohon doa agar hal-hal yang dikehendaki semoga tak terulangi.

Kedua, Kita menyadari bahwa setiap hidup memerlukan langkah secara bergantian --tidak berbarengan-- agar tujuan tercapai. Seperti halnya mengangkat beban berat, sebaik bergantian yakni satu-persatu sesuai dengan kemampuan dan itu membutuhkan waktu disertai kesabaran. Catat kembali permasalahan Anda yang menghimpit, dari yang paling menghimpit sampai yang paling menyenangkan, lalu berikanlah lawan problem seperti: Lalu dicari problem yang lebih gampang untuk dipecahkan, agar problem yang dicatat menyedihkan bisa berbalik menyenangkan. Hal ini berurut terus. Tentunya dengan hati yang tenang. Ketiga, keterbukaan dengan istri ikut membantu dalam memecahkan problem. Sapalah istri Anda dengan baik dan junjunglah istri Anda dengan ketulusan agar keterbukaan itu muncul. Dengarlah keluhan istri anda dengan empati.

Jawaban nomor 3:
Islam mengajarkan pendidikan keluarga harmonis, dengan cara menunaikan salat. Dan kita sendiri mengetahui bahwa salat adalah tiang dari agama kita. Salat sendiri adalah doa. Doa berarti permohonan. Allah-- Dzat yang menjadi tujuan dari segala permohonan-- memberikan tuntunan untuk memohon yaitu pada kewajiban ritual salat. Bagaimana harapan dan permohonan kita terkabul bila kita tidak mengikuti tuntunanNya. (Mungkin kata-kata saya ini sudah Anda ketahui, dan mari kita resapi kembali)

Adapun salat sebagai pendidikan keluarga yang harmonis adalah dengan cara berjamaah sebisa mungkin. Semakin sering semakin bagus. Dari situ kita bisa meresapi bagaimana nikmatnya memohon pada Allah SWT. bersama-sama. Usai salat hadapkanlah diri anda ke istri sambil berbicara hati ke hati mengenai segala permasalahan. Dan saling mengingatkan dalam kebaikan, tentunya dengan baik pula yaitu saling menempatkan ego kita pada penerimaan sebuah kesalahan, lalu beristigfar bareng-bareng. Rata-rata semua (dari salat sampai ngobrolnya) itu memerlukan waktu 15 menit lebih..., dan setelah itu kembalinya status seorang suami dan istri yang mesra, sesuai adat orang timur, bila sang istri mencium tangan sang suami dan sang suami mencium kening istri.

Begitulah penjelasan saya, semoga dapat sedikit meringankan beban Anda.
Terimakasih.

Didik L. Hariri
Dewan Asaatidz Pesantren Virtual


[]
Ikuti juga tanya jawab ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda:
  Halaman Yang Berhubungan
Tanya Jawab Terbaru
Tanya Jawab Sebelumnya(30)
Tanya Jawab Sesudahnya(32)