Kejujuran Dalam al-Qur'an
Seri ke-44, Minggu, 3 Desember 2000
Assalamualaikum Wr. Wb.
Pak Ustadz, saya mau tanya tentang dasar2 aspek JUJUR dalam
berkehidupan sehari2, baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah. Karena
saya mengamati kok negara2 islam banyak yang bersikap tidak jujur
dalam berkehidupan sosial tidak seperti kebanyakan orang2 di
negara2 maju. Seperti misalnya, dalam menjalankan roda
pemerintahan dalam hal pelayanan masyarakat, banyak kasus yang
tidak memperhatikan aspek kejujuran.
Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum,
Irfan
Jawab:
Ada beberapa aspek JUJUR dalam Islam:
Pertama, Jujur dalam kehidupan sehari-hari; merupakan anjuran
dari Allah dan Rasulnya. Banyak ayat Al Qur'an menerangkan
kedudukan orang-orang jujur antara lain: QS. Ali Imran (3):
15-17, An Nisa' (4): 69, Al Maidah (5): 119. Begitu juga secara
gamblang Rasulullah menyatakan dengan sabdanya: "Wajib atas
kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan
kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang
senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan
termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah
berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan
akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan
memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah
sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)
Kedua, kejujuran dan kebohongan dalam kehidupan politik; ada
hadits yang menyatakan dengan tegas bahwa Rasulullah bersabda:
"Ada tiga kriteria manusia yang tidak dilihat dan disucikan Allah
swt. di hari akherat bahkan bagi mereka adzab yang pedih adalah:
Orang sudah tua yang berzina, Pemimpin yang berdusta, dan Orang
sombong.
Adapun kebohongan yang diperbolehkan dalam kaitan untuk kegiatan
berpolitik, yaitu apabila kebohongan itu bisa meredam keributan
sosial agar tidak terjadi perpecahan. Dalam hal ini Rasulullah
saw. memberi keringanan seperti dalam hadis dari Ummi Kaltsoum:
"Saya tidak mendengar Rasulullah saw. memberi keringanan pada
suatu kebohongan kecuali tiga masalah: Seseorang yang
membicarakan masalah dengan maksud mengadakan perbaikan (Islah);
seseorang membicarakan masalah pada saat konflik perang (agar
selamat), dan seseorang yang merayu istrinya begitu juga istri
merayu suami.(HR. Muslim) Ada juga hadits yang menyatakan,
Rasulullah bersabda: "Bukanlah pendusta orang yang ingin melerai
konflik sesama, hingga orang tersebut berkata: semoga baik dan
menjadi baik" (HR. Mutafaq Alaih)
Begitulah batas kejujuran dan kebohongan secara dasar yang
berkaitan dengan keseharian dan politik. Dan sudah jelas bahwa
tujuan dari keduanya adalah untuk sebuah kedamaian.
Namun dalam kaitan politik kontemporer yang lebih pelik lagi dan
kompleks, Anda sendiri bisa memilah-milah bagaimana kehidupan
politik para penguasa sekarang sangat tidak memperhatikan nilai
kejujuran. Namun kita menyadari bahwa sistem negara Islam sendiri
juga masih dalam perselisihan hingga sebaiknya yang perlu kita
lihat adalah person atau oknum dalam memimpin kepemerintahan
tersebut. Selanjutnya kita berdoa agar sistem yang memberi
peluang terhadap kebohongan bisa diminimalisir. Dan itu berangkat
dari sistem kepribadian kita.
Terimakasih.
Eva Fachrunnisa
[]
Ikuti juga tanya jawab ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: