Penciptaan Alam Seisinya
Seri ke-49, Jumat, 8 Desember 2000
Assalamu'alaikum wr. wb.
Saya punya pertanyaan yang selalu mengendap di hati saya sejak
lama, yaitu tentang penciptaan langit dan bumi beserta seluruh
isinya.
Untuk apakah Allah menciptakan itu semua, padahal Allah itu tidak
membutuhkan apapun dari hasil penciptaannya itu. Termasuk
penciptaan manusia, untuk apa kita diciptakan (ada yang bilang
untuk "ibadah" masuk surga) tapi itu dari perspektif manusianya.
Pertanyaan inilah yang bikin bingung saya selama ini.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Identitas pengirim ada pada PV
Jawab:
Pernyataan Anda mengndung dua permasalahan, yaitu:
Untuk apa Allah menciptakan alam semesta sedangkan Allah swt.
tidak membutuhkan hasil ciptaanNya?.
Untuk apa kita diciptakan?
A. Aspek Kajian Tafsir
Kami jawab dari permasalahan kedua agar dapat berkait dengan
permasalahan pertama.
Untuk apa kita diciptakan:
Berangkat dari firman Allah swt.: "Tidak Aku ciptakan bangsa jin
dan manusia kecuali untuk beribadah" (QS. Adz Dzariyat (51): 56)
bisa dikatakan adalah prespekif kebutuhan makhluk Allah swt. yang
bernama jin dan manusia. Namun sebelum menyimpulkan penafsiran
ayat tersebut prespektif manusia (atau jin) ada baiknya kita
mengkaji beberapa pendapat mengenai makna dari ayat penciptaan
manusia dan jin.
Ada perselisihan pendapat dari ahli takwil mengenai makna dari
ayat tersebut:
Pendapat kesatu mengartikan: "Tidak Aku ciptakan bangsa jin dan
manusia yang bahagia (atas penciptaanNya) kecuali beribadah
kepadaKu, bagi yang sengsara kecuali untuk maksiat kepadaKu",
karena ada hadits yang berpangkal pada periwayatan Zaid bin
Aslam, yang mengatakan: "Allah tidak membentuk watak kebahagiaan
dan kesengsaraan kepada mereka" begitu juga hadits yang
diriwayatkan dari Sofiyan". Sebagian dari suatu ciptaan memang
untuk tugas peribadatan (entah menyeleweng atau tidak)".
Adapun pendapat kedua mengartikan: "Tidak Aku ciptakan bangsa jin
dan manusia kecuali tunduk beribadah kepadaKu". karena ada hadits
ibnu Abbas: "...kecuali menetapkan pada mereka untuk beribadah
baik secara sukarela maupun dengan keterpaksaan".
Dalam mengentaskan dua pendapat tersebut, seorang mufassir besar
Imam Thabary dalam bukunya "Jami' al Bayan" mengenai pentakawilan
al Qur'an, Jilid XIII (Daar al Fikr, Beirut, 1995) lebih
mendukung pada penafsirannya Ibn Abbas, dengan membeberkan sebuah
arti: " Tidak Aku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk
peribadatan kepadaKu dan tunduk pada perintahKu".
Namun dalam prespektif manusia: Kenapa ada manusia yang tidak
beribadah dan kafir , padahal Allah menciptakan manusia (dan jin)
untuk beribadah dan tunduk kepadaNya?. Hal ini menurut Imam
Thabary, kita kembalikan kapada ketetapan Allah bahwa Allah Maha
kuasa terhadap jin dan manusia untuk tunduk terhadap ketetapanNya
(qadla-Nya), baik tunduk terhadap ketetapan sebagai Kafir maupun
Muslim. Dari sinilah, ketetapan tersebut akan bisa dirubah atas
usaha jin dan manusia untuk tetap selalu ibadah kepadaNya,
seperti dalam ayat yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah swt.
tidak merubah suatu kaum kecuali atas usahanya sendiri.
Untuk apa Allah menciptakan alam semesta sedangkan Allah swt.
tidak membutuhkan hasil ciptaanNya?.
Berkaitan masalah penciptaan Allah terhadap jin dan manusia, ada
perselisihan antara Ahli sunnah dan Mu'tazilah seperti yang
diungkapkan pada aspek satrawinya oleh Prof. Muhyiddin ad Darwisy
dalam bukunya: "I'rab al Qur'an al Karim", bahwa Allah swt tidak
membutuhkan segala sesuatu dari hambaNya, baik berupa
rejeki atau makanan.
Akan tetapi meninjau secara esensial tidak ada perselisihan
antara dua golongan ulama tersebut sebab kedua perselisihan itu
sama-sama bermuara pada keMahaKuasaan Allah terhadap segala
makhluknya. Adapun peribadatan yang Dia sebutkan dalam kalamNya,
adalah peribadatan secara kebutuhan makhluk an-sich (saja).
Hal ini diterangkan Allah pada ayat selanjutnya: "Aku tak
membutuhkan dari mereka (jin dan manusia) secuil rejeki pun, dan
Aku tak meminta mereka untuk memberi makanan " (QS. Adz
Dzariyat(51): 57), arti menurut Ibn Abbas: "memberi makanan untuk
diri mereka sendiri". Peribadatan sebagai kebutuhan makhluk
an-sich tersebut ditekankan dalam ayat ini sebagai argumentasi bahwa
justru Allah lah yang memberi rejeki dan memberi makanan kepada
mereka, bahkan pada ayat selanjutnya Allah malah menyebutkan
dengan asmaNya sendiri: "Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki
lagi Maha mempunyai kekuatan yang dahsyat" (QS. Adz Dzariyat
(51): 58).
Adapun bila dikaitkan dengan kenapa Allah menciptakan alam
semesta, ada baiknya kita kaji kembali nila-nilai yang terkandung
dalam firman Allah swt.: " Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi serta peredaran malam dan siang merupakan tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal (Ulil Albab)" (QS. Ali Imran
(3);190)
Dalam tafsir al Manar, karangan ulama besar M. Rasyid Ridha pada
juz IV, disebutkan mengenai sebab turunya ayat tersebut dari
periwayatan Ibnu Abbas, bahwa kaum Quraisy datang pada orang
Yahudi dan bertanya: "Dengan apa Musa datang kepada kalian
menyerukan firman-firman Allah?", dijawabnya: "Dengan tongkat
saktinya dan tangan yang putih memancarkan sinar", kemudian
mereka (kaum Quraisy) datang kepada orang Nasrani: "Dengan apa
Isa datang pada kalian?" ,dijawabnya: "Dengan menyembuhkan orang
buta bawaan dan sakit lepra, serta menghidupkan orang mati. Lalu
mereka (kaum Quraisy) datang kepada Nabi saw. dengan pertanyaan
yang serupa maka turunlah ayat tersebut.
Disitu M. Rasyid Ridha menerangkan bahwa Allah menciptakan langit
dan bumi begitu pula sirkulasi siang dan malam sebagai sarana
berfikir bagi ibaad (para hambanya) agar tidak terjebak pada
jenis mirracle (atau keajaiban) hingga mereka bisa lebih leluasa
untuk beribadah kepada Allah semata dengan menggunakan
pikirannya. Dan ulul albab di atas diterangkan orang yang
mepunyai "al lub singularnya al bab" yang artinya poros
kehidupan, adapun "akal" bernama "al lub" karena mempunyai proses
induktif, memandang, mengambil manfaat dan mendapat petunjuk.
Begitulah penafsiran para Ulama, yang menetapkan sebuah
peribadatan sebagai kebutuhan manusia dan Allah swt.
tidakmembutuhkan segala sesuatu dari ciptaanNya. Wa Allahu A'lam.
Eva Fachrunnisa Amrullah
B. Aspek Kajian Filsafat
Untuk mendukung dari kajian Tafsir yang dilontarkan oleh Ustadzah
Eva Fachrunnisa di atas. Di sini saya akan sedikit membeberkan
aspek kajian filsafat bila kita bicara: "Mengapa? atau Untuk
Apa?" kita harus beribadah kepada Tuhan.
Secara sejarah filsafat agama, hal ini pernah dilontarkan Imanuel
Kant, bahwa evolosi agama (masuk di dalamnya adalah proses
peribadatan) yang paling awal terjadi pemikiran dan keyakinan
politeisme, kemudian terjadi penyempurnaan sehingga pemikiran dan
keyakinan tersebut mengerucut menjadi monoteisme (tauhid).
Walaupun pernyataan Imanuel Kant ini banyak sekali ditentang oleh
kaum agamawan, karena evolusi tersebut terlalu berpihak pada
prespektif manusia sehingga mengaburkan teks-teks dalam kitab
suci sebagai kalam Ilahi yang penuh dengan kebenaran. Namun di
sini kita ambil secara eksplisit bahwa prespektif manusia untuk
membuat aktifitas ritual peribadatan merupakan kebutuhan sangat
manusiawi.
Dalam hal peribadatan memang tak lepas dari pecarian manusia
terhadap Sang Pencipta. Dan kita juga pernah mendapatkan cerita
Al Qur'an mengenai agama Hanif, bahwa proses pencarian ketuhanan
Nabi Ibrahim berawal dari memandang bulan, kemudian matahari
hingga akhirnya sampailah pada kongklusi logika metafisis, bahwa
dibalik fisis matahari dan bulan tesebut ada Sang Pencipta bulan
dan matahari yaitu Tuhan.
Didik L. Hariri
[]
Ikuti juga tanya jawab ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: