Bagaimana Setan Dibelenggu dalam Ramadhan?
Seri ke-69, Kamis, 21 Desember 2000
Tanya:
Assalamu'alaikum wr.wb
Begini Pak kyai, saya mau tanya.
1. Apa benar kalau dalam bulan Ramadhan setan itu dikerangkeng
sama Allah, tapi kok santet itu kok tetap ada di bulan Ramadhan
(keluarga saya soalnya mengalaminya)?
2. Kalau orang ada di kutub itu trus shalatnya bagaimana, soalnya
kan terjadi perbedaan waktu yang sangat mencolok dengan daerah di
bumi yang lain?
3. Kemudian setelah kita mati, apa benar sorga itu ada dan misal
setelah di sorga atau neraka kemudian kemana? (kalau misal abadi,
mosok makhluk Tuhan itu abadi).
Demikian sebagian pertanyaan saya, mohon penjelasannya. Atas
perhatian dan bantuannya saya ucapkan terima kasih
Wassalamu'alaikum wr.wb
Jawab:
Hadis Nabi saw yang menyatakan bahwa pada bulan Ramadhan setan
dikerangkeng oleh Allah swt artinya sebagai berikut, "Apabila
datang bulan Ramadhan, pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu
neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu." [HR. Muslim]
Dalam hadis di atas, pembelengguan setan (wa shufidat
as-syayaathiin) secara bahasa berarti bahwa Allah swt mengikat
mereka dengan tali atau rantai seperti halnya di dunia nyata. Itu
maknanya secara hakiki. Namun pemaknaan secara hakiki itu belum
tentu jadi alternatif satu-satunya. Yakni benar begitu adanya.
Buktinya para ulama pun pada berbeda pendapat dalam memaknadi
"shufidat as-syayaathiin" tersebut. Ada yang memaknainya secara
hakiki: setan itu memang hakikatnya dibelenggu selama Ramadhan,
tidak bisa menggoda manusia lagi. Dan ada pulan yang menggunakan
makna majaz : bukannya setan terbelenggu sepenuhnya secara
hakiki, dia masih bebas berkeliaran, cuma tidak mempunyai
kesempatan luas untuk menggoda manusia, pintu-pintu rahmat dan
ampunan dibuka Allah seluas-luasnya.
Dan memang benar banyak sekali amal kebajikan yang dilakukan oleh
umat Islam pada bulan Ramadhan. Bersedekah, menyantuni anak
yatim, memberi bebuka pada orang yang berpuasa, salat tarawih,
salat tahajud, kegiatan dzikir pun meningkat pesat. Sesuai dengan
firman Allah "Sesungguhnya hambaku tidak ada kekuasaan bagimu
(iblis) atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu
orang-orang yang sesat." [QS. Al-Hijr:43] Dan pada ayat lain :
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa
was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah swt, maka ketika
itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." [QS.
Al-A'raf:201]
Pekerjaan-pekerjaan inilah yang sebenarnya bisa juga dianggap
membelenggu setan sehingga tidak banyak kesempatan baginya
menggoda orang-orang yang berpuasa. Hal mana sangat berbeda jauh
dibanding dengan bulan-bulan selain Ramadhan. Itulah makna
majaznya.
Memang, bisa jadi masih kemaksiatan masih ada, namun sangat
berkurang drastis.
***
Menentukan waktu shalat di kutub yang perbedaan waktunya tidak
bisa diketahui dari peredaran matahari karena pergantian malam
dan siang terjadi setahun sekali (tiap 6 bulan) dengan cara
menyesuaikan/menyamakan dengan daerah lain dimana waktu-waktu
shalatnya teratur. Dalam hal ini kita bisa mengambil patokan
daerah mana saja selain kutub yang peredaran waktunya 'normal'
selama 24 jam, yaitu daerah-daerah di katulistiwa. Kalau ada
ulama yang lebih mengutamakan Mekkah dijadikan patokan, itu
tentu, di samping, karena waktunya yang teratur (masuk daerah
katulistiwa), juga lebih mendekati praktek keseharian Nabi saw.
Yang mendasari ketentuan seperti ini adalah jawaban Nabi
menanggapi pertanyaan seorang sahabat tentang kewajiban salat di
daerah yang satu harinya menyamai seminggu (di Mekkah) atau
sebulan atau bahkan setahun. "Wahai Rasul, bagaimana dengan
daerah yang satu harinya (sehari-semalam) sama dengan satu tahun,
apakah cukup dengan sekali salat saja?" Rasul menjawab "Tidak.
Tapi perkirakanlah sebagaimana kadarnya (pada hari-hari biasa)".
[HR. Muslim].
***
Permasalahan adanya surga dan neraka merupakan permasalahan
ghaibiyaat (di luar jangkawan akal) yang mau tidak mau kita harus
mengimaninya. Dalam hal ini banyak sekali ayat atau hadis
menerangkan tentang adanya surga sekaligus bagaimana keadaannya
(silahkan baca surah as-Shaffaat:41-49, Yasin:55-58, Shaad:49-54,
az-Zukhruf: 70-73, ad-Dukhan: 51-57, dan masih banyak lagi).
Adapun pendekatan secara logika untuk mengetahui eksistensi surga
dan neraka di akhirat kelak, para ulama mengaitkannya dengan
keadilan Tuhan terhadap hambanya. Dalam arti bahwa jika
pembalasan di akhirat (surga dan neraka) itu tidak ada, maka
konklusi logisnya Tuhan itu tidak adil, karena membebaskan
orang-orang yang berbuat maksiat dan ingkar terhadap perintah-Nya
tanpa ada balasan sedikitpun, sedangkan orang mukmin yang terus
berjuang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya, tidak mendapatkan sesuatu. Maka dari itu sudah
menjadi keharusan dan wewenang bagi-Nya untuk membalas dan
menghukumi semua perbuatan menusia di dunia, baik dan buruknya.
Di sinilah letak keadilan Tuhan, yaitu menyediakan surga bagi
orang-orang yang taat dan neraka bagi orang-orang yang ingkar. Di
samping itu, dalam banyak ayat kita selalu menemukan
perintah-perintah Allah swt selalu dibarengi dengan janji-janji
bagi yang mematuhinya dan ancaman bagi yang ingkar, hal tersebut
secara implisit mengisyaratkan bahwa Allah swt menjadikan dua hal
tersebut sebagai cita-cita akhir dari segala perbuatan manusia.
Adapun setelah itu mau ke mana. Wallahu a'lam, itu sudah di luar
jangkauan akal. Dan tak perlu kita mengkoreknya. Yang penting
bagi kita adalah bertakwa kepada-Nya. Itu saja.
Mutamakkin Billa
[]
Ikuti juga tanya jawab ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: