Agar Khusyuk Berdoa
Seri ke-72, Minggu, 31 Desember 2000
Tanya:
Assalamu'alaikum wr.wb
Saya ingin menanyakan beberapa hal:
1. Tentang sholat tarawih yang ditutup dgn sholat witir, apabila
kita ingin menjalankan sholat sunah lain tidak perlu ikut sholat
witir atau saholat witir itu hanya untuk penutup sholat tarawih?
2. Tentang Puasa Syawal apakah kita boleh berniat puasa syawal
sekaligus berniat mengqadha puasa ramadhan ?
3. Gimana cara yang jitu untuk kyusu' dalam sholat dan doa?
4. Bagaimana cara mendoakan keluarga yang sudah meninggal apakah
kita mengirim fateha setiap habis sholat itu sudah cukup atau ada
cara yang lain?
Terima Kasih
Wassallam Gta - Batam
Jawab:
1. Kita memang berada dalam dua pilihan antara melakukan Witir
secara berjama'ah (tepat selepas Tarawih) atau nanti di akhir
malam, setelah kita benar-benar mau mengakhiri dari melakukan
salat-salat sunat lainnya. Perbedaan ulama itu bermula dari
pertentangan antara keutamaan berjamaah (yg seharusnya senantiasa
dijaga) dengan anjuran (hadis) untuk mengakhirkan salat witir (di
akhir malam setelah kita benar-benar selesai dari salat-salat
sunat lainnya).
Namun, apakah salat witir yg kita lakukan secara berjama'ah
setelah Tarawih itu merupakan penutup, sehingga kita tidak lagi
boleh melakukan salat sunat lain setelahnya? Tidak. Karena Nabi
saw pun pernah melakukan salat 2 rekaat setelah beliau melakukan
witir.
Anda tidak apa-apa melakukan Witir secara berjama'ah. Kalaupun
nanti ingin salat malam lagi (menjelang atau setelah sahur) itu
juga tak apa-apa. Karena, (1) Nabi pernah melakukan salat sunat
setelah beliau melakukan Witir sebelumnya, dan (2) dijelaskan
dalam sebuah hadis, Nabi melakukan Witir berjama'ah (tepat
selepas Tarawih). Anda tak perlu lagi mengulang Witir jika telah
melakukannya sehabis Tarawih berjama'ah, karena ada hadis yang
menyatakan "Tidak ada Witir dua kali dalam semalam".
(Lebih lengkapnya, tengok juga "Tanya Jawab(42) Salat Witir,
Mandi Junub, dan Wudhu'" di website).
2. Pertanyaan Anda yg nomor dua ini juga pernah terjawab dalam
"Tanya Jawab(34) Merangkap Niat Puasa".
3. Mengenai tip agar khusyu' dalam salat itu begini: disarankan
bagi orang yg sudah paham bahasa Arab agar meresapi makna setiap
kalimat yang dibacanya (bisa diperoleh dari buku-buku panduan
salat). Namun, jika belum mendapatkan juga, satu-satunya cara
ialah harap berlatih konsentrasi, meyakini bahwa dia saat salat
itu sedang menghadap Tuhannya. Konsentrasi itu bisa diperoleh
dengan:
a. Tanamkan kesadaran sedalam-dalamnya bahwa salat adalah sebuah
prosesi suci untuk menghadap Tuhan. Salat adalah cara komunikasi
terbaik antara hamba dan Allahnya.
b. Pusatkan konsentrasi (untuk menghadap Allah) sejak beberapa
menit sebelum salat.
c. Bebaskan pikiran dari kesibukan apa saja. Jika sekiranya ada
suatu pekerjaan yang belum selesai, selesaikan dulu, atau sengaja
istirahatkan sementara dan dilanjutkan nanti sehabis salat.
d. Biasakan mengingat Allah tidak hanya dalam salat. Tanamkan
kesadaran bahwa Allah itu Maha Dekat (lebih dekat dari urat
Nadi); Allah Maha Mengetahui segala gerak-gerik kita; Maha
mendengarkan mendengarkan segala keluhan (sekalipun itu hanya
dalam hati). Jika semua itu kita lakukan dengan tulus,
sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang.
Langkah ke-4 inilah sebenarnya langkah terpenting dan menyeluruh.
Jika kita bisa melaksanakannya, bisa dipastikan salat kita pun
akan senantiasa khusyuk. Membiasakan diri utk selalu mengingat
Allah dalam segala tindakan, memang sulit, mula-mula. Tapi
manakala kita mau berusaha dan berlatih, pasti bisa. Kita
senantiasa memikirkan bagaimana agar kita bisa untuk itu. Karena
kita tak pernah akan bisa mengerjakan sesuatu tanpa memikirkan
bagaimana agar bisa. Ini semua tanpa mengurangi etos kerja,
justru seharusnya semakin bersemangat dan tak mudah putus asa.
4. Dalam berdoa pun demikian, langkah ke-4 tersebut memegang
peranan penting. Perasaan dekat bersama Tuhan di mana saja
berada, menjadikan hati kita mudah membisikkan dan memanjatkan
apa saja yang menjadi kebutuhan kita. Kita akan merasa senantiasa
dekat dengan-Nya bila kita tidak pernah melanggar apa yang
dilarangnya. Jangan sampai kita mengerjakan sesuatu yang menurut
keyakinan/kemantapan kita bahwa sesuatu itu terlarang (kalau
perlu yang makruh juga jangan). Setiap kali kita melakukan
sesuatu yang terlarang/haram, hal itu hanya akan membuat jarak
bahkan menjauhkan diri kita dari Allah. Makanya dikatakan, iman
kita pada Allah itu bisa bertambah dan berkurang. Akan bertambah
jika kita melakukan segala ibadah secara ikhlas lillaahita'aala.
Sebaliknya akan berkurang saat kita melakukan maksiat. Di saat
seseorang melakukan maksiat, ia tahu bahwa yang dilakukannya itu
maksiat. Ia sadar ia menjauhi kehendak hati nuraninya sendiri.
Itu karena amal perbuatan adalah performa keimanan yang
bersemayam di dada. Keimanannya utuh jika amal perbuatannya baik,
dan menipis karena perbuatannya jelek, berdosa. Itulah rahasinya
mengapa dalam al-Qur'an berulang kali tertutur "alladziina
aamanuu wa 'amiluushshaalihaat", orang-orang yang beriman dan
beramal baik (saleh). Semakin tipis iman kita pada Allah, semakin
jauh kita dariNya, semakin sulit doa kita terkabul.
Langkah yang juga penting, Anda harus sadar bahwa apa yang Anda
doakan itu betul-betul yang Anda butuhkan. Karena Anda akan lebih
meresapi apa yang Anda ucapkan jika itu memang merupakan
kebutuhan. Tak perlu memakai bahasa Arab jika tak paham maknanya.
Maka tak perlu menghafal sebuah doa, karena doa itu pekerjaannya
hati. Biasanya, kalau sebuah (kalimat) doa itu sudah dihafal luar
kepala, akhirnya bergeser menjadi pekerjaannya mulut, tidak
keluar dari lubuk hati. Mulut komat-kamit sementara hatinya
kosong. Percuma saja kalau demikian. Juga tak perlu muluk-muluk
harus memakai doa hadiahnya kiai ini kiai itu. Sederhana saja doa
itu, yaitu apa yang benar-benar menjadi desahan dan rintihan
kalbu kita. Karena itulah kebutuhan kita. Untuk memenuhi hal ini,
kita harus senantiasa berfikir langkah apa yang telah dan akan
kita lakukan hari ini, apa yang kurang dan adakah kiranya kendala
menghadang. Maka kita lantas berdoa "Ya Allah, sukseskan
tugas-tugasku hari ini." Ketika mendengar ada kawan sakit, segera
tuluskanlah hati anda memohon "Ya Allah, sembuhkanlah dia". Tak
perlu lama-lama mencari-cari dan mengingat-ingat kalimat Arab
"syafaakallaahu mariidhak" (semoga Allah menyembuhkanmu). Di
sinilah kebenaran hadis "al-du'aa' mukhkhul 'ibaadah" (doa adalah
otaknya ibadah). Berfikir dan berdoa adalah dua langkah yang
harus dijalankan secara berkelindan dan beriringan. Dengan kata
lain, apa yang kita pikirkan itulah cita-cita kita yang harus
kita panjatkan dalam setiap doa. Baik cita-cita itu tinggal
selangkah lagi, atau masih sekian ratus di depan, harus kita
doakan..kita pikirkan..kita doakan. Teruuus begitu. Jika
demikian, langkah demi langkah kita adalah hasil fikiran yang
baik. Dan kebaikan itu adalah ibadah.
Langkah lainnya adalah optimisme dalam berdoa. Banyak hadis yang
menyiratkan hal ini.
"Berdoalah dan serta-merta mantaplah doamu dikabulkan. Karena
ketahuilah Allah tidak mengabulkan doanya orang yang hatinya lupa
(akan apa yg didoakannya)". "Saya (Tuhan) bersama prasangka hambaKU kepadaKU, jika dia
optimis maka hasilnya seperti apa yang ia harap, jika pesimis pun
demikian.. hasilnya jelek seperti yang ia duga."
Selain itu, 3 tip pertama (di atas) agar khusyuk dalam salat juga
sesuai untuk dipraktekkan dalam berdoa. Karena kesamaan antara
salat dan doa. Salat secara leksikal mempunyai arti doa. Salat
adalah cara berkomunikasi dengan Tuhan, demikian pula doa.
Inilah di antara beberapa langkah dasar yang harus terpenuhi,
agar bisa khusyuk dalam berdoa. Penting pula ditambah dengan
tatacara : berdoa dalam keheningan fajar, setiap usai salat,
menengadahkan kedua tangan dan tenang menghadap kiblat.
Wallahua'lam bisshawaab.
Arif Hidayat
[]
Ikuti juga tanya jawab ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda: