Diupdate terakhir: 12 Mei 2001
   Pesantren Virtual -> Tanya Jawab -> Berkumur di siang hari saat berpuasa, dll

Berkumur di siang hari saat berpuasa, dll
Seri ke-126, Rabu, 25 April 2001


Tanya:

Ustadz mohon nasehatnya :
  1. Apabila kita sedang puasa bolehkah kita tidak berkumur (dalam berwudhu) karena takut air tertelan?
  2. Apabila kita sedang salat bolehkah kita menelan ludah?
  3. Di kebanyakan mesjid di Indonesia sekarang ini kan kurang terjaga kebersihannya, jadi kadang kadang kita suka ragu akan keabsahan wudhu kita. Bisa diterangkan perbedaan kotor saja dengan najis? Dan apabila kita khawatir terkena najis, apakah kita harus wudhu lagi?
Jazakallah khairan katsiroo.

Muhamadian - Cibubur Indah


Jawab:

  1. Persoalan tidak berkumur, ya tentu boleh-boleh saja. Karena berkumur itu hanyalah sunat hukumnya. Apalagi di bulan puasa. Syafi'iyah justru memakruhkan berkumur (baik saat berwudhu atau tidak) bagi orang berpuasa, setelah lewat tengah hari. Karena kumur-kumur bisa menghilangkan bau mulut (khaluuf). "Bau mulutnya (khaluuf) orang puasa nanti di hari kiamat lebih utama bagi Allah dari minyak Kasturi".

    Namun ada juga yang tidak memakruhkan, hukumnya mubah (boleh). Menurut pendapat ini, khaluuf itu bersumber dari dalam, tidak semata-mata dari mulut. Karenanya, kalaupun kita menggosok gigi atau berkumur, tetap saja khaluuf itu ada.

  2. Menelan ludah saat salat boleh saja. Asal bisa memastikan ludahnya bersih dari sisa-sisa makanan atau minuman. Makanya dianjurkan kalau habis makan atau minum (sesuatu yang ada rasanya) untuk berkumur-kumur dulu, sampai sisa-sisanya bersih. Kalau bersih kan salatnya tambah khusyuk. Soalnya, biasanya, sisa-sisa makanan atau minuman itu mempercepat keluarnya ludah, hingga kita tidak mudah khusyuk.

  3. Tidak bersihnya itu karena apa? Kalau sekedar debu, maka itu tak najis walau nampak kotor. Ya cukup di sapu saja. Karena debu yang berterbangan oleh angin itu tak apa-apa. Tidak najis. Siapa sih yang bisa menghindar dari debu. Mungkin ini yang Anda maksud.

    Kalau kotornya karena najis, seperti air kencing, tahi cicak, dll, harus dibersihkan sampai tidak ada bekasnya lagi. Bila kita terkena najis, wudhu kita tidak batal. Cukup kita membersihkan najis tsb.

    Jadi, dalam hal ini, sesuatu yang kotor itu belum tentu najis, dan najis sudah pasti kotor.

    Juga tak perlu ragu, apakah wudhu kita sah atau tidak, selama air yang kita pakai wudhu jelas kesuciannya.

Demikian, semoga cukup jelas.


Arif Hidayat

[]
Ikuti juga tanya jawab ini melalui email anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email anda:
  Halaman Yang Berhubungan
Tanya Jawab Terbaru
Tanya Jawab Sebelumnya(125)
Tanya Jawab Sesudahnya(127)