Sebagaimana dikatakan banyak ayat dalam Al Quran,
bahwa kita sebagaimana manusia harus ber"Sabar". Nah,
konteks yang mana kita boleh bersabar dan makna yang
bagaimana kesabaran pada kita. Selama ini yang kita
lihat banyak fenomena sehari-hari kesabaran ini sudah
ditinggalkan oleh sebagian manusia, yang menjadikan
makna dari sabar ini sudah tidak ada lagi.
Kemudian di dalam menyampaikan permohonan-permohonan
kepada Tuhan, supaya bersabar. Sabar yang bagaimana?
Apakah kita harus menunggui? Kadang-kadang kita sudah
merasa bekerja keras dalam hal fisik untuk menempuh
agar yang kita inginkan didapatkan, tetapi belum
memperoleh juga. Sampai dimana kesabaran harus kita
pertahankan?
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Edi Gondowardojo
Jawaban:
Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Yth. Pak Edi,
Dalam al-Qur'an surah Fusshilat : 49 dikatakan : "Manusia tidak jemu memohon
kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi
putus harapan". Putus asa adalah sifat yang tercela. Tidak selayaknya
seorang mu'min berputus asa dalam segala hal, baik dalam berdo'a kepada
Allah maupun dalam menghadapi kehidupan ini.
Ketika kita berdo'a kepada Allah, maka tidak terlepas dari dua kemungkinan,
dikabulkan atau tidak. Kalau dikabulkan kita harus segera bersyukur kepada
Allah. Namun bila merasa belum dikabulkan, kita tidak dibolehkan cepat-cepat
berkeyakinan bahwa do'a kita tidak dikabulkan Allah. Ada beberapa
kemungkinan yang terjadi. Mungkin do'a kita belum dikabulkan Allah, atau
Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dari yang kita minta, atau
mungkin diri kita belum siap atau tidak layak untuk mendapatkan permintaan
kita.
Itulah, maka doa yang kita panjatkan kepada Allah, hasil dan buahnya tidak
bisa kita ukur dengan waktu. Rasulullah pernah berdo'a "Ya Allah berilah
petunjuk kaumku, karena mereka banyak yang bodoh". Apa yang terjadi, apakah
semua kaumnya beriman? Ternyata sampai Rasulullah wafat pun masih banyak
kaumnya yang tidak beriman, namun Rasulullah tidak berputus asa dan terus
berusaha bahkan berpesa kepada umatnya agar meneruskan perjuangannya.
Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan : "Mintalah karunia Allah, karena
Allah senang kalau dimintai sesuatu dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu
dibukanya kesulitan kita" (H.R. Tirmizi).
Itulah sebaik-baik ibadah, menunggu hingga dihilangkannya kesulitan dan
kesedihan kita dan tidak mengeluh kepada selain Allah.
Sikap seorang mu'min yang baik adalah yang tidak mudah berputus asa dan
tidak mudah kecewa, senantiasa besar hati dalam menerima apapun yang
dialami dan dideritanya, karena itu semua atas kehendak Allah. Maka dalam
ayat lain dikatakan bahwa sikap berputus asa adalah sikap orang kafir
(al-Ankabut: 23). Ini karena mereka yang berputus asa atas rahmat Allah
telah menentang kehendak Allah dan ingin memaksa Allah dengan kehendaknya.
Demikian semoga membantu. Wallahu a'lam bishshowab.
Wassalam
Muhammad Niam
[]
Ikuti juga tanya jawab ini melalui email Anda, tanpa susah-susah lagi membuka web site ini. Caranya! Masukkan email Anda di text-box, lalu klik tombol berikut.
Email Anda: