Tarawih Kualitas dan Tarawih Kuantitas

Salah satu yang menjadi kekhususan dalam bulan Ramadhan adalah, adanya shalat tarawih yang dilakukan setelah mendirikan shalat Isya. Biasanya shalat tarawih ini dilakukan secara berjama’ah, baik di masjid, mushala ataupun di lapangan. Tarawih diambil dari akar kata rawaha yang artinya istirahat. Hal ini berarti pada esensinya shalat tarawih dilaksanakan dengan santai dan diselingi dengan istirahat-istirahat kecil.
 
Sebetulnya, shalat tarawih ini baru disyariatkan pada tahun kedua hijriyah berbarengan dengan perintah puasa. Ketika itu Rasulullah Saw hanya mengimami sahabat yang juga shalat tarawih di masjid Nabawi, namun pada hari ketiga-nya beliau tidak keluar dari rumah, dan lebih memilih shalat tarawih di rumah. Ketika beliau ditanya oleh para sahabat, tentang tidak shalatnya beliau bersama sahabat berjamaah di mesjid, beliau menjawab karena khawatir shalat tarawih nantinya dianggap menjadi wajib oleh umat Islam.
 
Selama berjama’ah dengan sahabat, beliau shalat sebanyak delapan rekaat ditambah dengan tiga rakaat witir, jadi jumlah rakaat tarawih seluruhnya adalah sebelas rakaat. Dan sholat ini merupakan shalat sunah yang lazim atau biasa Rasulullah kerjakan baik di luar maupun di dalam bulan Ramadhan. Namun setelah Rasulullah wafat, gagasan pertama kali untuk mengumpulkan ummat Islam yang sudah sangat banyak jumlahnya ketika itu dalam bentuk shalat tarawih berjamah secara terus menerus adalah khalifah ke dua Umar bin Khatab, dan Ubay bin Ka’ab sebagai imamnya. Sementara jumlah rekaatnya ditambah menjadi 20 rakaat dan witir 3 rakaat.
 
Beliau berpandangan bahwa apa yang digagasnya dan mendapat persetujuan dari para sahabat Nabi yang masih hidup kala itu bukanlah sebagai suatu tindakan mengada-ngada atau menambah-nambahkan ajaran agama yang baru (bid’ah syar’iyah). Sebab beliau mendasarkan pandangannya ini dari anjuran umum dalam al-Qur’an juga hadits untuk selalu berlomba-lomba dalam kebajikan, termasuk dalam memperbanyak shalat sunnah dan ibadah-ibadah nawafil lainnya. Namun inti dan substansi shalatnya tidak dirubah, hanya cara dan pengembangan kuantitasnya saja yang ditambah. Dan hal ini sejalan dengan ruh maqashid syariah yang dipahami oleh para sahabat Nabi ketika itu.
 
Tentunya, baik mengikuti cara shalat tarawih yang dilaksanakan oleh Rasulullah yaitu sebanyak sebelas rakaat, ataupun mengikuti cara yang dilakukan oleh khalifah Umar bin Khatab, kedua-duanya memiliki dasar dan dalil yang kuat, dan kedua-duanya adalah benar. Bahkan pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz jumlah rakaat tarawih menjadi 36 rakaat ditambah witir 3 rakaat. Imam Syafi’i pun pernah berkata, ”aku pernah melihat shalat tarawih di masjid Nabawi sebanyak 39 rakaat, dan di masjidil Haram sebanyak 23 rakaat, semuanya itu boleh saja”.
 
Terlepas dari berapa rakaat, yang terpenting adalah bagaimana dalam menjalankan shalat tarawih kita dapat laksanakan sesuai dengan syarat syah dan rukun shalat yang benar, etika/adab menghadap Allah Swt yang baik dan sopan, dan bacaan shalat yang tidak tergesa-gesa dengan penghayatan yang tepat. Tentunya, baik bagi yang memilih shalat tarawih dengan jumlah sebelas, dua puluh rakaat ataupun lebih jika ketentuan-ketuan yang tadi dijalankan, maka akan lebih sempurna.
 
Contohnya, jika melaksanakan shalat dengan jumlah sebelas rakaat, namun terpelihara syarat, rukun, kefasihan bacaan, dan kekhusyuan di dalamnya, tentu lebih utama ketimbang yang melakukannya dengan dua puluh rakaat namun tidak terdapat di dalamnya semua hal tersebut, dan begitu sebaliknya.
 
Bahkan pengalaman yang menarik saat saya berada di Mesir dan di Arab Saudi juga di Pakistan, ketika melaksanakan tarawih, jika sang imam biasanya melaksanakan tarawih dengan sebelas rakaat, sementara terdapat makmum yang memilih dua puluh rakaat, ia (makmum) dapat melanjutkannya sendiri setelah jamaah tarawih selesai. Juga sebaliknya jika sang imam mengimami dengan dua puluh rakaat, bagi makmum yang terbiasa dengan sebelas rakaat, ia dapat langsung berhenti dan mengakhiri shalat jamaahnya.
 
Tentu pemandangan yang indah ini dapat terjadi, karena adanya pemahaman yang kuat serta sikap saling pengertian yang tinggi yang perlu kita bangun di masyarakat kita. Sebab mereka mengerti bahwa semua hal ini adalah masalah ijtihadiyah, atau masalah yang bersifat furu’iyyah; yang jika kita laksanakan salah satunya, kita tidak dapat dipersalahkan, atau kita boleh memilihnya sesuai dengan kondisi dan kemudahan yang kita rasakan.
 
Tentu sikap toleran yang indah seperti ini harus kita ciptakan, dan nampaknya akan semakin menambah keindahan bulan suci Ramadhan, sebagai bulan persaudaraan dan pengertian antar sesama umat Islam. Bukankah ajaran Nabi mengatakan bahwa perbedaan pendapat adalah sebuah rahmat bagi umat Islam. Dan rahmat ini dapat terlihat dari betapa indahnya kedewasaan kita dalam menyikapi perbedaan yang ada. Bahwa justru dengan perbedaan ini, akan membawa pada kemudahan dan alternative tracks kepada kita untuk menempuh jalan menuju ridha Allah Swt. Sebab ternyata jalan menuju keridhaan Allah Swt itu sangat banyak dan beragam, serta menjadikan kita semakin mudah untuk mendapatkan pilihan-pilihan bukan?.
 
Ustadz Muladi Mughni