Tayamum

Tanya:

Saya hendak bertanya mengenai tayamum.
1. Bagaimana cara bertayamum? Tolong dijelaskan secara tafshili meliputi sebab diperbolehkannya, jenis debu yang boleh digunakan, dan rukunnya.

Isfi Nafi' – Kuningan Jakarta

2. Debu mana saja yang dapat digunakan tayamum?
3. Apabila dalam kendaraan umum atau sedang sakit sedangkan kita batal, akan melakukan salat apakah sah menggunakan debu yang menempel pada pakaian atau pada kendaraan? Mohon dijelaskan dasarnya.

Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Yayan Suryana – Bekasi Timur

Jawab:

Tayammum disyari'atkan oleh agama berdasar ayat : "Dan jika kamu sakit atau bepergian atau habis buang besar, sementara kamu tidak menemukan air (untuk berwudlu) maka bertayamumlah….dst". (QS. al-Ma'idah ayat 6). Berdasar ayat itu pula, sesuai kesepakatan para ulama, tayamum kedudukannya hanya sebagai pengganti bersuci wudlu (jika berhadas kecil) dan bersuci mandi (jika berhadas besar/junub).

Jadi kita hanya boleh bertayamum jika memang tidak menemukan air untuk bersuci (mandi dan atau wudlu). Masuk dalam kategori "tidak menemukan air" ini dua hal:

  1. Tidak bisa menggunakan air karena berbagai alasan:
    1. Alasan medis; karena jika, misal, anggota badan yang sakit yang wajib kena air wudlu terkena air akan bertambah sakit.
    2. Takut dari sesuatu yang membahayakan, yang menghalang-halangi kita dari tempat air. Misalnya ada musuh atau hewan buas yang menghalangi-halangi untuk mencapai air.
    3. Kebutuhan kita terhadap air. Ini misalnya kita mempunyai persediaan air yang hanya cukup untuk kebutuhan yang lebih darurat, seperti minum (baik untuk diri sendiri, kawan, orang lain, atau hewan yang kehausan). Begitu juga jika kita mempunyai persediaan air yang hanya cukup untuk menghilangkan najis, maka diperbolehkan tayamum.
    4. Tidak mempunyai alat untuk mengambil air. Seperti tidak mempunyai timba untuk menimba dari sumur, sementara waktu salat tinggal sebentar.

  2. Tidak menemukan air di sekitar kita, dan jika kita memaksakan mencari air maka habislah waktu salat.

Jadi pada dasarnya, apa yang memperbolehkan kita untuk melakukan tayamum adalah kesulitan kita untuk menemukan air atau berhalangan menggunakannya (walaupun kita punya air).

Adapun debu yang bisa digunakan untuk tayamum adalah debu suci dan halus (sekiranya diusapkan ke kulit bisa menempel).

Sedangkan rukun-rukunnya : (1) niat melakukan tayamum, (2) mengusap wajah dengan debu, (3) mengusap kedua tangan sampai siku. Ketiga langkah tersebut harus dilakukan secara berurutan dan tidak terpisah-pisah dlm waktu yang lama, sebagaimana dalam wudhu.

Arif Hidayat

***
Sdr. Yayan Suryana,
Debu yang sah digunakan tayamum adalah debu yang bersih suci dan mempunyai sifat debu (bersifat serbuk). Para ulama berbeda pendapat mengenai esensi dari debu tersebut:

Mazhab Maliki berpendapat bahwa bahwa debu bisa mencakup apa saja yang muncul di permukaan bumi, seperti kerikil dan batu-batuan. Mazhab Hanafi berpendapat lebih umum lagi mencakup juga semua yang berasal dari bumi, seperti bata dan keramik. Mazhab Syiah berpendapat bahwa semua bagian bumi termasuk debu.

Namun sebagian besar ulama berpendapat bahwa debu yang bisa digunakan untuk tayamum adalah debu yang terlihat mata. Hanya mazhab Hanbaliyah yang berpendapat bahwa dalam bertayamum yang penting adalah ketika tangan ditempelkan ke suatu obyek yang sekiranya terdapat molekul debu meskipun tidak terlihat mata, baik obyek itu tembok, kain, atau apa saja, bahkan benda hidup seperti punggung hewan, yang penting obyek itu suci maka seperti itu sudah sah, menurut Hanbaliyah.

Praktik Hanbaliyah ini yang banyak dipakai umat Islam zaman sekarang, khususnya pada saat bertayamum di atas pesawat yang memang sulit untuk menemukan debu dari tanah. Mazhab Hanbali ini juga lebih cocok untuk konsep kebersihan, karena memudahkan orang yang hendak bertayamum dengan tidak perlu mengotori muka dan tangan mereka dengan debu tanah.

Dalam keadaan sakit, sesuai keterangan di atas, seseorang boleh bertayamum memakai debu yang menempel di pakaiannya. Tapi daripada kesulitan, lebih baik minta tolong ke orang lain untuk mendatangkan obyek yang mudah untuk menempelkan tangan. Demikian juga di kendaraan umum, kalau memang kondisinya tidak mungkin mendapatkan air, atau kendaraan tersebut berjalan non-stop melampaui beberapa waktu salat, maka boleh tayamum. Namun bila waktu salat diperkirakan belum habis saat beristirahat, maka tidak perlu tayamum di kendaraan.

Muhammad Niam