Teladan Seluruh Umat Manusia

Empat belas abad silam, Muhammad bin Abdullah, memutuskan hijrah ke kota Madinah, mencari peruntungan dakwah Islam meninggalkan Mekah, kota kelahirannya. Belum genap tiga belas tahun—waktu yang relatif singkat untuk mencipta peradaban baru—, dari kota kecil nan tandus itu, beliau sukses menyampaikan pesan Tuhan ke sekian banyak manusia, merubah paganisme masyarakat jahiliyah menuju penyembahan kepada Tuhan yang satu, menembus batas teritorial kota Madinah, menaklukkan Mekah, hingga menjalar ke seluruh jazirah Arab kemudian melintasi benua. Jutaan manusia berbondong-bondong mengikuti ajakannya memasuki agama Islam. Hingga sekarang, tak sejengkal wilayahpun di bumi luput dari pancaran cahaya Islam.


Sosok Muhammad tak hanya sukses dalam bidang spiritual, tetapi pada setiap peran yang dia emban dalam berbagai bidang kehidupan. Seorang Profesor Filsafat India, Ramakrishna Rao, dalam bukunya, Muhammad: The Prophet of Islam, menyebutnya sebagai ”model (teladan) yang sempurna bagi kehidupan manusia”.

Lebih lanjut dia menegaskan bahwa ”The personality of Muhammad, it is most difficult to get into the whole truth of it. Only a glimpse of it I can catch. What a dramatic succession of picturesque scenes! There is Muhammad the Prophet. There is Muhammad, the Warrior; Muhammad, the Businessman; Muhammad, the Statesman; Muhammad, the Orator; Muhammad, the Reformer; Muhammad, the Refuge of Orphans; Muhammad, the Protector of Slaves; Muhammad, the Emancipator of Women; Muhammad, the Judge; Muhammad, the Saint. All in these magnificent  roles, in all these departments of human activities, he is like a hero.” Pernyataan senada juga disampaikan oleh tokoh-tokoh kondang seperti Lamartine, Michael H. Hart, Sir George Bernard Shaw, Mahatma Gandhi, Wolfgang Goethe, Thomas Carlyle, John Esposito dan seterusnya. Artinya, kredibilitas Muhammad sebagai ‘orang yang harus dimuliakan’ tidak hanya diakui umatnya sendiri, akan tetapi umat agama lain.

Namun sangat disayangkan, Muhammad saw. dicitrakan dengan sebaliknya oleh Barat atas nama kebebasan berekspresi. Adalah Jyllands-Posten, ‘pelopor’ pemuatan visualisasi kartun yang dinisbatkan—dan selamanya tak akan ternisbatkan oleh sebab kemuliaannya—kepada Nabi Muhammad saw., diikuti banyak media-media Barat—bahkan Indonesia—hingga sekarang. Paling anyar adalah film singkat bertajuk “FITNA” yang tersebar luas di LiveLeak.com. Oleh para orientalis picik subjektif itu, Nabi Muhammad dituduh sebagai pembawa ajaran kekerasan dan mengajarkan terorisme. Lebih disayangkan, pernyataan senada juga pernah dilontarkan oleh pimpinan otoritas keagamaan tertinggi Kristen, Paus Benediktus di Vatikan yang memicu kemarahan umat Islam. Sebuah pertanyaan besar bagi fenomena ini adalah, kebebasan seperti apa sesungguhnya yang mereka anut?

 

Nabi Yang Kedatangannya Telah Dijanjikan

Banyak sekali hal yang luar biasa dari sisi kehidupan Muhammad. Penemuan nama Muhammad dalam literatur agama-agaama besar dunia, misalnya. Para sarjana muslim, menemukan bahwa Muhammad terdapat dalam literatur agama ardi maupun samawi, seperti Parsi (Zoroastrian), Hindu, Budha, Injil (Kristen) dan Taurat (Yahudi). Dalam literatur-literatur tersebut diketahui bahwa kedatangan Muhammad telah dikabarkan jauh sebelum kelahirannya.

Dalam berbagai literatur agama Yahudi dan Kristen, terdapat banyak referensi yang merujuk kepada Muhammad baik dalam Perjanjian Lama (the Old Testament) maupun Perjanjian Baru (the New Testament), seperti Deuteronomy 18:18, Genesis 21:13, 18, Isaiah 42:1-13, dan John 16:7-14, 14:16 (lihat Abdul Ahad Dawud (tadinya seorang Tokoh Terkemuka Kristen, David Benjamin), Muhammad in the Bible). Dan yang juga tak kalah menarik, sebagaimana menurut A. H. Vidyarthi dan U. Ali dari India dalam bukunya yang berjudul Muhammad in Parsi, Hindu and Budha mencatat bahwa dalam literatur Hindu, Nabi dikabarkan sebagai “Mahamad” di dalam Bhavisya Puran, Prati Sarg Parv III:3,3,5-8 dan sebagai “ Narashansaha” dalam Atharva Veda, Bagian 20, Kuntap Sukt yang berarti ‘the praised one (yang terpuji)’ dalam bahasa Inggris, ekuivalen artinya dengan “Muhammad” dalam bahasa Arab. Dalam literatur Budha, tersebut kata “Maitreya” atau “Mettaya” (Miroku dalam bahasa Jepang; Mei-ta-li-ye dalam bahasa China; Mahitreja dalam bahasa Tibet), yang sama artinya dengan ‘Mercy unto-all (rahmatan lil ‘aalamiin)’, adalah sebutan bagi Nabi Muhammad sebagaimana di dalam Al-Quran (QS. 21:107). Sedangkan dalam literatur Persia, beliau disebut dengan “Soeshyant” (Rahmatan lil ‘Aalamiin) dan “Astvat-ereta” dalam Zend Avesta dan juga di dalam Dasatir, epistle of Sasan I, 55-61.

Dikabarkannya Muhammad dalam literatur-literatur tersebut mengindikasikan bahwa sumber seluruh agama yang dibawa oleh para Nabi di dunia adalah sama—yakni Islam—dan Muhammad adalah Nabi Universal. Ia adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi alam semesta). Seluruh umat manusia harus mengakui baik kenabian maupun ajarannya.

Bertepatan dengan ulang tahun kelahirannya (maulid nabi) pada 12 Rabiul Awwal 1428 H (bertepatan dengan 20 Maret 2008), baiklah sejatinya umat Islam mengambil i’tibar dari sejarah hidup Muhammad saw., yang sangat mulia. Para orang tua muslim bertanggung jawab menanamkan kecintaan anak-anak mereka kepada Rasulullah saw dengan menceritakan sirahnya. Para ulama berkewajiban meneladaninya dalam hal menyampaikan Islam. Para pedagang (pelaku bisnis) dapat mencontoh kejujurannya sebagai pangkal keberhasilannya dalam bidang ekonomi dengan menerapkan sistem ekonomi berdasarkan ajaran Tuhan (ekonomi Islam). Sedangkan para pemimpin, negarawan berkepentingan mengikutinya dalam hal mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Apapun peran yang kita sandang, maka Muhammad saw., adalah teladannya (masterpiece). Wallahu a’lam.


[i] Penulis adalah Peneliti di Islamic Economy and Social Study Society Institut Manajemen Zakat Jakarta.