Ungkapan Kebencian Merusak Puasa dan Ibadah Anda

Rasulullah saw bersabda “Banyak sekali yang puasa tapi hanya merasakan lapar dan dahaga”, sedangkan dia tidak mendapatkan pahala apapun. Salah satu penyebabnya adalah tidak menjaga mulut. Meskipun puasa, tetapi tetap menggunjing, menjelek-jelekkan dan melaknat. Puasa yang dilakukan seakan tidak ada gunanya karena telah keluar dari tujuan puasa itu sendiri yaitu mengendalikan hawa nafsu.
Seorang muslim harus menjaga dirinya dari menyaikiti sesama muslim baik melalui perkataan atau perbuatan. Rasulullah besabda “Seorang muslim yang utama adalah adalah yang menyelamatkan saudaranya dari perkataan dan perbuatannya”. Perintah itu menjadi lebih kuat saat kita melaksanakan ibadah puasa karena sejatinya puasa adalah mengendalikan hawa nafsu.

Ungkapan kebencian atau hate speech, yang bisa berupa tindakan mengolok-olok, mengejek dan caci-maki saat ini menjadi isu penting dalam menata pola hubungan bermasyarakat. Banyak konflik dan ketegangan di masyarakan yang sumbernya adalah karena para tokoh dan aktifis agama menggunakan perkataan yang kasar dan bernada mencaci maki ketika membicarakan kelompok lain yang beda aliran atau beda keyakinan. Cara berdakwah dengan nada permusuhan dan kebencian seperti itu tidak banya mendatangkan manfaat, justru mudharat dan kerugian yang didapatkan.

Ajaran Islam melarang ungkapan kebencian dalam bentuk apapun. Marilah kita simak dalil-dalil berikut yang menunjukkan bahwa dalam kondisi apapun berkata halus dan sopan tetap dianjurkan. Dan berkata yang sopan tidak menyinggung perasaan orang lain inilah yang dilakukan Rasulullah saw.

1. Larangan Berkata buruk dan tidak sopan.
Allah berfirman:
لا يحب الله الجهر بالسوء من القول إلا من ظلم وكان الله سميعا عليما
Allah tidak menyukai ucapan buruk, yang diucapkan dengan tersu terang kecuali oleh orang-orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
2. Rasulullah saw tidak suka mencaci dan melaknat orang lain, meskipun orang itu musyrik. Melaknat artinya mendoakan agar orang lain celaka.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ ، قَالَ : ” إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً ” .
Suatu hari disampaikan kepada Rasulullah saw “Wahai Rasulullah, doakan agar orang-orang musyrik celaka”. Beliau menjawab: “Aku diutus bukan sebagai orang yang mudah melaknat, akan tetapi aku diutus sebagai pembawa kasih saya”. H.r. Muslim.

Dalam Sahih Bukhari dikisahkan, satu hari datang orang Yahudi ke Rasulullah saw. Mereka mengucapkan “Assaamu alaika” (artinya: celaka untukmu”, lalu Nabi menjawab “Waalaikum” (kalian juga celaka). Lalu Aisyah di belakang murka dan ikut menjawab “Celaka untuk kalian, semoga kaian dilaknat Allah dan dimurkai Allah. Rasulullah menegur Aisyah: “Pelan-pelan Aisyah, selayaknya kamu bersifat lembut, jauhilah sifat kasar dan bermusuhan”. Aisyah menjawab: “Apa Baginda tidak mendengar ucapan mereka?”. Rasulullah menjawab: “Apakah kamu tidak mendengar apa yang kukatakan. Aku telah menjawab mereka, dan apa yang kukatakan dikabulkan sedangkan apa yang mereka katakan tidak dikabulkan”.

3. Dua orang yang saling mencaci, keduanya sama-sama melakukan dosa dan oleh Rasulullah saw diibaratkan dua setan yang saling bertengkar.
المستابان شيطانان يتهاتران ويتكاذبان
Rasulullah saw bersabda: Dua orang yang saling adu mulut adalah dua setan yang saling membohongi dan saling menjelek-jelekkan. Bukhari

Mari kita jadikan Ramadhan ini bulan latihan untuk mengendalikan lisan kita agar tidak mengeluarkan kata-kata kebencian dan permusuhan. Dalam waktu yang sama kita jadikan bulan ini bulan untuk melatih lisan kita agar senantiasa berkata halus dan lembut perkataan yang tidak menyinggung perasaan orang lain dan tidak melukai hati sesama.

Ustadz Muhammad Niam