Wacana Riba Dalam Perspektif Ekonomi

Dalam QS 2:275, Allah SWT dengan sangat tegas telah mengharamkan praktek riba. Disini kami mencoba memaparkan beberapa dampak negatif riba (bunga) dari perspektif ekonomi. Dampak tersebut diantaranya adalah bunga akan mencegah terjadinya kondisi full employment. Hal ini bisa ditinjau dari dua aspek. Yang pertama, institusi bunga akan membentuk komponen biaya produksi tersendiri. Akibatnya adalah terjadi peningkatan pada struktur harga, yang berimplikasi pada penurunan daya beli masyarakat. Turunnya daya beli ini akan menyebabkan terjadinya penurunan tingkat konsumsi masyarakat, investasi, dan lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, bunga akan "memiskinkan" masyarakat. Dalam QS 2:275, Allah SWT dengan sangat tegas telah mengharamkan praktek riba. Disini kami mencoba memaparkan beberapa dampak negatif riba (bunga) dari perspektif ekonomi. Dampak tersebut diantaranya adalah bunga akan mencegah terjadinya kondisi full employment. Hal ini bisa ditinjau dari dua aspek. Yang pertama, institusi bunga akan membentuk komponen biaya produksi tersendiri. Akibatnya adalah terjadi peningkatan pada struktur harga, yang berimplikasi pada penurunan daya beli masyarakat. Turunnya daya beli ini akan menyebabkan terjadinya penurunan tingkat konsumsi masyarakat, investasi, dan lapangan pekerjaan. Dengan kata lain, bunga akan "memiskinkan" masyarakat. Aspek selanjutnya adalah bunga mencegah tercapainya kondisi optimum untuk marjinal efisiensi permodalan (MEC). Kondisi ini mengakibatkan segala sumberdaya yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan dan digunakan secara maksimal, sehingga berdampak pada penurunan tingkat investasi. Untuk itu, sebagai solusinya nilai bunga harus direduksi hingga nol persen (bebas bunga) agar efisiensi permodalan ini dapat mencapai level yang maksimal, sehingga investasi dapat mencapai tingkat yang paling optimal. Kemudian dampak lainnya adalah terkait dengan pemusatan kekayaan di tangan segelintir orang. Bunga adalah institusi yang menyebabkan tingginya konsentrasi ekonomi di kalangan golongan "the have". Dalam kegiatan perekonomian kapitalis, bunga dibebankan kepada konsumen sebagai bagian dari harga barang yang dikonsumsi. Selanjutnya, pendapatan bunga ini akan mengalir kepada kaum kapitalis pemegang modal, baik secara langsung maupun melalui institusi perbankan. Sehingga dalam sistem ekonomi seperti ini, terjadi aliran kekayaan dart masyarakat banyak kepada segelintir orang saja. Lantas dimana letak keadilan dari sistem seperti ini? Yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin akan semakin miskin. Dengan demikian jelaslah bahwa bunga merupakan institusi ekonomi yang "memiskinkan" masyarakat. Sehingga dalam QS 2:279 Allah SWT secara tegas menyatakan perang terhadap manusia yang senantiasa melaksanakan praktek riba dalam kehidupannya. Wallahu ‘alam bi ash shawab.