Zakat dan Aurat

Tanya:

Ustadz, saya ada dua pertanyaan:

  1. Apakah bila kita menerima pesangon harus dizakatkan, dan berapa persen besar zakatnya? Dan juga ustadz, apakah boleh kita memberikan zakat ke madrasah di tempat kita belajar mengaji dulu (kondisi madrasah tsb walaupun tidak setaraf dengan al-Azhar tapi cukup memadai). Kalau memang dibenarkan saya ingin mengeluarkan sebagian zakat saya untuk madrasah tsb.
  2. Menurut sepengetahuan saya aurat wanita yang boleh dilihat adalah muka dan kedua tapak tangan. Dalam hal ini apakah punggung tapak tangan juga boleh terlihat, karena saya sering melihat muslimah yang memakai jilbab pada waktu salat tidak menggunakan mukena lagi sehingga punggung tapak tangannya tetap terlihat dikarenakan panjang lengan bajunya hanya sampai pergelangan tangan. Mohon penjelasan dari ustadz.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Nina-Jakarta

Jawab:

Mbak Nina,

  1. Pada prinsipnya, uang apa saja yg belum pernah dizakati (dlm setahun) maka ia harus dizakati. Dengan catatan jika pemasukan itu dikumpulkan selama setahun mencapai nishab. Jika tidak, ya tidak wajib. Pemasukan itu meliputi gaji tetap, uang lembur, pesangon, dll yg bisa disebut pemasukan. Mengenai nishab, dan seberapa besar prosentase zakatnya, bisa Anda lihat dlm "Tanya Jawab(32) Menyalurkan Zakat", Tanya Jawab(37), dan (55).

    Apakah bisa disalurkan ke madrasah? Ini juga sudah terjawab di situ.

  2. Secara bahasa, "kaff" (telapak tangan) mempunyai dua definisi: (a) kaff itu ya meliputi punggungnya, tak hanya telapak bagian dalam. (b) kaff hanya bagian dalam saja. Dari perbedaan definisi ini, maka lantas muncul perbedaan hukum: yg pertama, punggung telapak tangan boleh terlihat; dan kedua, punggung telapak tangan harus tertutup. Saya sendiri cenderung mengikuti pendapat pertama, yang memperbolehkan punggung telapak tangan nampak. Jadi batas aurat itu ya hanya sampai pergelangan tangan saja. Ini bisa kita kaitkan juga dengan ihramnya orang perempuan, di mana telapak sampai pergelangan tangannya tidak boleh tertutup.

Demikian wallaahua’lam.

Nunuk Mas’ulah