Bulan Ramadhan dalam arti yang lain disebut pula dengan bulan taubat. Artinya pada bulan ini Allah Swt membuka begitu banyak pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat dosa. Kita telah sama-sama ketahui bahwa tak ada manusia yang tidak berdosa. Dan hal ini pun telah diakui oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa setiap anak manusia pasti memiliki salah dan dosa. Namun sebaik-baiknya orang yang berdosa adalah mereka yang segera bertaubat meminta ampun kepada Allah Swt.
Dalam hal yang terkait dengan kesalahan manusia, ada yang berhubungan dengan Allah Swt saja, dan ada pula yang berhubungan dengan antar sesama manusia. Jika kesalahan ataupun pelanggaran yang terjadi pada hamba hanya berhubungan pada hak Allah Swt semata, maka kunci taubat yang harus ia lakukan hanya dua hal, yang pertama; ia harus meyesali perbuatannya itu dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi di kemudian hari. Yang kedua, memohon ampun kepada Allah dengan harapan dan keyakinan bahwa Allah akan mengampuni dosa dan kesalahannya tersebut.
Adapun jika kesalahan dan dosa yang dilakukan seseorang itu terjadi antara sesama manusia, seperti jika seseorang membicarakan kejelekan saudaranya di hadapan orang lain, atau mengambil milik/hak orang lain secara tidak sah, dan lain-lain, maka cara bertaubatnya adalah dengan dua cara yang disebut di atas, dan ditambah satu hal lagi, yaitu ia harus meminta maaf kepada orang yang ia dzalimi secara langsung atau mengembalikan hak orang tersebut jika hal itu terkait dengan suatu barang atau benda.
Sungguh Allah Swt sangat senang melihat hamba-hamba-Nya yang bertaubat, bahkan dilukiskan dalam sebuah hadits, bahwa gambaran senangnya Allah Swt terhadap hamba-Nya yang hendak bertaubat dari perbuatan dosa yang dilakukannya. Ibarat seseorang dalam perjalanan jauh yang ditemani oleh seekor unta dan seluruh perlengkapan hidupnya ia letakkan di atas unta, seperti hartanya, tempat tidurnya, alat-alat masaknya dan lain-lain. Tiba-tiba orang tersebut tertidur dan untanya lepas pergi entah kemana. Di saat orang tersebut terbangun, ia sudah tidak lagi menemukan untanya bersamanya lagi. Ia mencarinya ke semua tempat selama berhari-hari, namun ia tidak menemukannya. Akhirnya, karena begitu lelahnya ia pun tertidur pulas. Dan begitu ia bangun dari tidurnya, ia mendapatkan untanya sudah berada di sampingnya kembali lengkap dengan yang di bawanya pertama kali.
Dalam hadits ini Rasulullah Saw menggambarkan betapa bahagianya seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang berhari-hari telah hilang. Akan tetapi Rasulullah Saw langsung menjelaskan, bahwa bahagianya Allah Swt kepada hamba-Nya yang kembali bertaubat dari perbuatan dosanya, jauh lebih besar ketimbang kebahagiaan seorang musafir tadi yang mendapatkan untanya kembali ke hadapannya. Subhânallâh.
Setelah mendengar keterangan hadits ini, sesungguhnya apa lagi yang kita tunggu, kenapa kita tidak bersegera bertaubat kepada Allah Swt. Kepada siapa lagi kita tumpahkan segala kebodohan, kesalahan, dosa dan kealfaan kita, kecuali kepada Zat yang Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha Menyimpan rahasia. Sesuai dengan firman Allah Swt:
أَفَلاَ يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Tidaklah mereka itu segera bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya, sesungguhnya Allah maha pengampun dan maha penyayang” (QS. al-Maidah: 74).
Mungkin kita pernah merasa, apakah Allah Swt akan menerima taubat kita, yang memang sejak kecil hingga usia tua penuh dengan dosa, sering melanggar perintah dan petunjuk-Nya, bahkan menghina ajaran-ajaran-Nya.Yang pasti tidak ada kata terlambat untuk bertaubat, selama ruh (nyawa) belum sampai di tenggorokan, Allah Swt masih tetap menerima taubat hamba-Nya. Sebab Allah Swt, memperingati orang-orang yang memang dalam hidupnya telah melampaui batas dosa yang tak terkira, agar mereka tidak pernah berputus asa atas curahan rahmat Allah Swt yang begitu luas, sebab sesungguhnya Allah Swt maha menerima taubat atas dosa-dosa apapun (QS. al-Zumar: 53), selain dosa menyekutukan Allah Swt.
Maka di kesempatan bulan puasa ini, mari kita latih diri kita untuk berintrospeksi atas segala kesalahan dan dosa yang pernah kita lakukan, dan sungguh waktu dan masa ini adalah yang paling tepat untuk meluapkan taubat kita kepada Allah Swt. Dan hendaknya kita tidak menunda-nunda taubat sampai tua nanti, sebab siapakah yang mengetahui bahwa kita masih diberikan kesempatan hidup oleh-Nya sampai hari esok?.